Ku mohon hapuskanlah segala rasaku…

“Ya Allah, jika dia tidak dikehendaki untukku, ku mohon hapuskanlah segala rasaku”…
Terkadang, kalimat itulah yang ku pinta dalam sebagian do’a

Allah pasti mendengarnya, hanya saja Allah tentu punya rencana yang lebih indah,
Jujur saja, aku merasa lelah,
Aku terlalu dipermainkan oleh perasaanku sendiri,
Kadang ingin tetap bertahan, kadang juga ingin berhenti,
Kadang ingin menjauh pergi, tapi naluri meminta berjuang lagi,
Padahal nyatanya, aku kembali berhenti di dalam duka seperti ini,
Untuk kesekian kali, lagi, dan lagi

Aku tidak ingin mencintainya, jika pada akhirnya aku harus terluka,
Aku tidak ingin mencintainya, jika pada akhirnya aku tidak bersamanya,
Meski terkadang orang bilang, cinta yang tulus tak perlu balasan,
Tapi rasanya itu semua hanyalah kebohongan,
Siapapun, pasti ingin cintanya terbalaskan,
Meski hanya sekedar mendapat pengakuan tanpa mampu digenggam,

Aku bosan berteman dengan duka,
Aku lelah menangis dalam asa,
Aku ingin bahagia, sama seperti yang lainnya

Sampai kapan aku harus berada dalam titik ujian?

Pertanyaan itulah yang selalu bergelut dalam fikiran kala hati mulai dipenuhi rasa sesak dan luka yang cukup dalam,

Aku terlalu banyak dikelilingi pertanyaan yang sebenarnya tidak pantas ku pertanyakan

Aku cukup sadar setelah aku merasa tenang, bahwa semua itu hanya sekedar emosi sesaat,
Sedikit luapan atas setumpuk beban yang tak sanggup lagi ku tahan,

Seketika nuraniku mengatakan bahwa aku harus banyak belajar,
Entah itu belajar menerima kenyataan,
Atau bersabar dalam menjadi pemeran skenario Tuhan.

Untuk apapun itu, kelak pasti akan ku temukan jalan.
Meski hati menginginkan dia untuk melabuhkan rasa.
Tetapi jika Allah tidak menghendaki, aku bisa apa?

“Dikutip dari LINE”

putriima, 27 mei 2017

Aku Bukan Pengkhianat

Kenalkan namanya Tiwi, berparas ayu, tingginya sekitar 157 cm ideal untuk tipeku, sawo matang, alis tebal, mata indah, pipi chubby, dengan rambut sedikit dibawah bahu…hitam lurus, kadang bagian bawahnya dia tata kerinting gantung tetapi lebih sering melekuk kedalam, aahh apa pun itu dia sempurna…
Aku mengenalnya tujuh tahun yang lalu ketika menemani sahabatku berkunjung kerumahnya, bukan untuk menemui dia tetapi adeknya, ya lebih tepatnya menemani sahabatku mendekati sang adek…

Tak pernah kuduga, kali itu…saat pertama aku melihatnya adalah awal kisahku yang tak berujung…
Aku memutuskan untuk mendekatinya…
Mencoba untuk memenangkan hatinya, berkali kali…

Wanita ini memang spesial, berbeda, biasanya mudah bagiku mendapatkan seorang dara, bahkan tidak perlu kudekati, banyak yang menawarkan dirinya untukku…
Namun dia…sulit sekali aku meraih hatinya…
Dia berbeda,

Bila tak mampu menjadi kekasihnya, aku masih bisa menjadi sahabatnya…

Namun tak dinyana rasa nyaman itu muncul…selalu, setiap saat, setiap jam, setiap detik aku bercakap dengannya…
Nyaman sekali…
Rasa cinta untuknya pun semakin lama semakin tertanam, terlalu banyak, sampai kadang tak kuasa aku menahannya…
Tuhan, ingin sekali aku mencintainya dengan bebas… menjadi pangeran dihatinya

Ya…bukan sekali, dia menjadi alasanku mengakhiri kisah cinta dengan perempuan lain…
Bukan…bukan karena aku pengkhianat…
Yang kucintai hanya dia, dari awal aku mengenal kata cinta…
Itu adalah dia…
Aku hanya memperjuangkan cinta sejatiku..
Aku hanya memperjuangkan dia…

Sampai suatu saat aku bertemu seorang wanita, teman lama ku..
Kutemukan kenyamanan yang sama…mmm mungkin tidak senyaman dengan tiwi…
Tetapi cukup untuk mengisi kekosongan hatiku saat itu..

Sebelum melangkah jauh…
Sekali lagi kutanyakan pada sang pujaan hati, hanya agar aku tidak menyesal akan keputusanku memilih pintu kebahagiaan yang lain…
Bersediakan dia menjadi orang spesial untukku
Dan ya…seperti sebelumnya dia memilih untuk menjadi teman…
teman baikku…

Bertahun tahun kujalani hari bersama wanita itu, teman lamaku yang sejak setahun lalu telah kuhalalkan…
Namun bayang bayang dirinya terlalu dahsyat..
Mungkin ini candu, yang tak mungkin ku hentikan…

Hari itu tiba, saat dimana dia dan aku mulai kembali bersapa…
Tak banyak yang berubah darinya…tetap istimewa…tetap mempesona…
Tak ada niat apapun, alih alih untuk menjadi kekasihnya…
Kami hanya menjalin silaturahmi, berteman…seperti sebelumnya…

Tak kusangka hari hari ku jauh lebih berwarna dengannya…
Menyenangkan…bahagia
Kebahagiaan yang tak pernah kurasa…bahkan ketika bersama istriku..
Semua berjalan begitu saja…
Tanpa kusadari, benih cinta itu tumbuh kembali..benih cinta yang sudah lama kukubur sejak kuputuskan untuk meminang istriku..

Dilema…
Aku pun sadar semua ini tidak benar…
Tetapi pesonanya…gejolak cinta untuknya terlalu membuncah…
Tak sanggup…sungguh aku tak sanggup menahannya…

Ya..kali ini dia menerimaku, dengan keadaanku yang sudah tidak sendiri…
Dia mampu menerimaku, dengan semua konsekuensinya yang menurutku tidak mudah…
Mungkin ini yang dibilang kekuatan cinta…

Tanpa sadar hatiku pun memilih bersinergi dengan sikapku…
Maafkan aku istriku
Aku tidak mengkhianatimu…
Pernikahan kita justru pengkhianatan terbesarku…
Cinta sejatiku adalah dia…
Sang dara yang saat ini sedang tertidur pulas…
…dipelukanku…

putriima,22mei2016

Paman (1)

Sudah tak terhitung berapa lama aku tak berjumpa dengannya, bahkan berkabarpun nihil atau mungkin memang tuntutan seorang eksekutif muda merenggut semua waktunya, termasuk untukku…

“jadi gimana bulan?”
“gimana apanya?”
“fotonya”
“foto…mmm dia cuma lagi khilaf, biarlah paman, mungkin dia lagi banyak kerjaan, butuh temen cerita, nanti juga kembali”
“kamu ini…”
…….
“yang penting jangan ganggu sekolahmu, jalani apa yang kamu yakini benar, paman balik kantor…kalau ada apa apa..nih!” dia meletakkan dua buah kertas dan kartu nama “kamu tau apa yang harus dilakukan”
pandanganku tertunduk, tak berani ku menatap wajahnya…

hari ini genap 6 bulan dari badai terbesar yang pernah kurasakan…
pikiran itu terus mengusik, foto itu…
gambar seorang pria bergandengan tangan, berjalan dari mobil menuju apartemen dengan seorang puan…puan yang wajahnya pernah kulihat di macbook miliknya…bahkan sejak 4 tahun yang lalu…

paman…satu satunya orang yang mengetahui kealpaan itu…
bukan sekali ini beliau memberitahuku…
bukan sekali ini pula beliau menegaskan bahwa perusahaannya tidak butuh pemimpin khianat macam dia…
namun paman memilih diam…demi aku…demi perasaanku…karena sampai detik ini pria khianat itu masih berstatuskan cinta halalku…
ya ini rumit, seandainya perasaanku tidak sedalam ini…

lamunanku melayang, berjam jam…sementara kartu namanya masih berkelok indah…kumainkan disela jari,terlihat tulisan nama dan nomor telepon…kumainkan, sampai es jeruk ini terasa hambar bersisa lelehan es batu…

berat
kuhela nafas panjang, berkali kali…
dada ini seperti diberi beban berpuluh ton….
berat…
kupejamkan kedua mata…
hanya untuk meyakinkan diri, memantapkan keputusan seperti apa yang sudah ditunjukkan olehNya kepadaku…

nomornya sudah sama seperti pada kartu nama…bismillaah…
kutekan tombol hijau dari telepon seluler…
“halo…bang adrian?”

-bersambung-

putriima.20mei2016

Rasa itu

Sejak kejadian itu, aku benci dengan malam, aku benci hari libur, aku benci penghujung minggu…bahkan mungkin aku benci diriku…

Kutarik lagi bantal di bawah kepala, kuletakkan menutupi wajah…tak bertahan berapa lama, kusingkirkan kembali bantal itu, kurangkul sembari merubah posisi…tak perlu satu menit, bantal itu sudah berada di atas wajahku lagi…
Entah berapa lama aku bergeliat dengan bantal ini…pikiranku melayang, bayangan dirinya selalu berlari dalam otak…jiwaku disini, diatas kasur didalam kamar tidur ini…namun pikiranku disana, ada padanya yang sekarang entah dimana…

Tak ingin larut terlalu lama, segera kualihkan pandangan pada dinding sudut ruangan, terlihat jarum pendek mengarah pada angka dua belas dan yang satunya berada antara tiga dan empat…
uda dini hari begini…insomnia lagi…

Aku harus tidur, badan ini sudah protes dari kemarin, kemarahannya sudah membuncah selalu dengan 38C, tidak jarang 40C

Pagi sayang
Suaranya berat namun lembut, membangunkanku pagi itu,
Hey! ada dia disana, dikasur itu, disebelahku…
Aku masih ingat betul wajahnya, kupandangi berkali kali, benarkah ini dia…kuperhatikan setiap lekuk, celah dan kesempurnaan dalam wajah itu…tak percaya dengan yang kulihat, kusentuh wajahnya, rambutnya…
ya ini dia, laki laki yang aku cintai…
akhirnya dia pulang…
Tak dapat menahan gejolak yang ada, kuciumi wajahnya,
Berbalas dengan kecupan lembut dibibirku, keningku…bergairah namun perlahan…

Tanpa sadar otot zygomaticus major berkontraksi menarik kedua sudut bibir, sambil memegang lembut wajahnya aku tersenyum…bahagia..

Kami terdiam, saling melihat tanpa berkata…
Dia tidak menyentuhku lagi, hanya tanganku yang konstan memegangi wajah itu…
Wajah yang kurindukan sejak entah sudah berapa lama…
Dia pun tersenyum, manis, seperti biasanya…
Indah…
Tuhan bolehkan aku memohon sekali lagi, tolong hentikan waktu, aku tak ingin saat ini berhenti…

Rasa itu menyeruak kembali, menggelitik dari dalam kalbu, berjalan perlahan, dia berusaha keluar, namun sepertinya tertahan, alih alih menyebar mengikuti aliran darah.
Rasa gelisah itu.
Tak peduli, yang penting dia disini, masih dengan pesonanya.
Namun rasa itu semakin mengganggu, detak jantungku semakin ngga karuan. Kutundukkan sebentar pandanganku, kualihan tangganku dari wajahnya untuk meyakinkan bahwa dadaku tidak apa apa.

Hanya beberapa detik berselang, sentuhan lembut meraih tanganku, aneh…pandanganku jadi kabur…
Nak, uda jam 05.00, sholat subuh dulu

Rasa itu semakin mederu, semakin medominasi seluruh jiwa…
Tidak aku tidak mungkin salah, itu nyata,
Sampai pada tatapanku terhenti melihat bantal guling yang ada disebelahku…masih tertata rapi.

putriima.17Mei2016

Perempatan jl.A Yani Surabaya

Aku mengenalnya sepuluh tahun yang lalu, saat kami sama sama masih terdaftar sebagai mahasiswa fakultas kedokteran di Surabaya. Tidak ada yang menonjol dari dirinya, sama seperti yang lain, dia suka nongkrong di kantin bu tris, sambil sesekali aku melihatnya merokok…Tidak banyak aku memperhatikannya, sampai di tahun kedua dia mengundurkan diri. Berita itu cepat sekali menyebar, Agis mengudurkan diri untuk melanjutkan pendidikan di akademi kepolisian.

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun…
Perjalanan panjang yang kutempuh, tak terasa sudah enam tahun…semuanya mengalir begitu saja sampai pada hari kelulusan…gelar dokter itu akhirnya bisa bersanding cantik dengan namaku. Ya kenalkan saya dr.Ami.

Hari itu, tujuh bulan setelah kelulusanku, siang hari di perempatan Jl. A. Yani Surabaya tepatnya pukul 13.15. Entah kenapa nama itu yang langsung teringat ketika seorang polisi memberhentikan mobil yang kukemudikan…untuk pertama kali, aku menghubunginya.

Skenario Tuhan memang tidak pernah meleset dari lakonnya, inilah skenario terindah yang pernah dituliskan untukku.

Saat ini setelah dua tahun berselang. Siapa sangka, detik setelah melewati perempatan a.yani menjadi awal sejarah luar biasa dalam hidupku, dalam hidup kami tepatnya.
Rasanya aku ingin kembali ke pos polisi dan mencari bapak kumisan yang memberikanku surat tilang saat itu. Bukan untuk memaki, justru ingin memberikan bunga tanda terimakasih yang luar biasa karena telah membuatku menghubunginya kembali.

Dia IPTU Agis, pria yang saat ini bersanding denganku, disini, di masjid ini, setelah beberapa menit yang lalu dihadapan kedua keluarga besar kami, dengan janji atas nama Allah, pria itu berjabat tangan dengan ayahku…menghalalkanku…

putriima.2 februari 2014

Malam itu…

Malam itu berlalu seperti malam malam sebelumnya, aku tetap bergulat dengan jutaan kata yang harus ditelaah dalam sebuah jurnal.
Bahkan hari itu pun tidak ada yang istimewa, pergi ke rumah sakit berjalan menyusuri selasar, makan siang di pujasera, melempar ombrolan dan canda dengan perawat, bermain dengan pasien. Yaa begitulah keseharianku. Keseharian sejak 1 tahun yang lalu. Sejak diberi kesempatan untuk menempuh sekolah lanjutan dokter spesialis, hari hari kujalani hanya pergi ke rumah sakit pulang dan kembali ke rumah sakit.
Bosan? Jelas!!

“mas apakabar?” Setelah beberapa hari, akhirnya kuberanikan diri untuk menyapanya, mengirimkan sebuah pesan singkat.
Bukan..bukan karena aku menjauh…aku hanya takut, takut dengan respon yang dia berikan..aku takut dia bersikap seolah kami adalah teman..ya aku takut…

“hey…!!” seseorang menepuk bahuku, hampir saja membuatku jatuh
“ngelamun terus, uda selesai belum ngerjain pasien nya? Makan yuk…bentar lagi ilmiah, g bisa makan..”
Ku lemparkan senyum simpul dan anggukan “iya ayuk”

Malam itu, malam dimana Allah memberitahuku…malam itu, malam dimana aku menjadi istri yang mungkin dimurka bahkan oleh Tuhan sekalipun…
malam itu, untuk keseribu kalinya aku tenggelam oleh emosi dan kecemburuan…malam itu, malam terakhir dia memanggilku “sayang” sebelum aku melemparkan kata kata bisikan syetan…malam itu malam terakhir aku mendengar suaranya…malam itu arrgh sudahlah..

“irma!!!uda belum liat menunya? gantian!!!” suaranya membangunkanku dari lamunan, ya entah berapa lama kertas menu ini sudah kupegang…
”aku es teh aja”
“kamu tuh uda sebulan g pernah makan siang, diet??beneran es teh aja ni?..saya mesen lalapan ayam pake terong ya mbak sama es jeruk”
………………………
“udahlah ir..mau sampe kapan kamu gini terus, mau diinfus lagi? Kamu uda kurus begitu, jangan nyiksa diri terus…udaah pasrahin sama yang diatas…urus dirimu dulu” namanya rina, aku mengenalnya satu tahun yang lalu, pada saat ujian masuk…
Pandanganku tertunduk, mataku kembali berkaca, “mm iya…”
……………………………..
“alhamdulillah baik. Adek apakabar?” satu pesan diterima, tanpa sadar terbentuk senyum kecil dari bibirku, ya pesan darinya…

Malam itu… atas ijinNya, dibentangkan semua kebenaran, kenyataan bahwa pintu rumah kami sudah dibukakan untuk orang lain, orang yang tidak asing bagiku, orang yang sangat kucemburui…dara itu datang lagi atau mungkin sebenarnya tidak pernah pergi, hanya bersinggah di tempat lain dan sekarang saatnya sang dara pulang ke rumah. Ya rumah, rumahnya yang ternyata adalah hati itu. Hati yang aku pikir sudah diberikan hanya untukku saat dia meminangku…

Malam itu…

putriima.20 desember 2015

CINTA

Kata orang cinta bisa bikin yang ngga mungkin menjadi mungkin
Bisa bikin yang tidak baik menjadi baik
Cinta juga bisa memberikan kebahagian diluar nalar
Tapi kadang cinta juga menyakitkan
Meruntuhkan semua asa
Menghancurkan semua pengharapan yang ada
Cinta itu aneh
Bisa membuat semuanya sesempurna ini
Ato mungkin… sehancur ini
Cinta itu…seperti angin
Tidak jarang dia membuat orang merasa nyaman sampai tertidur
Namun suatu saat dia menjadi beliung yang mematikan
Yang mengoyak habis semua jiwa didalamnya

Cinta…ya..dia hanya cinta
Hanya sebuah rasa…tidak lebih…dan akan tetap seperti itu
Selamanya…

putriima.14 mei 2016